Rabu, 16 November 2016

Seputar Rokok

Kalian Perokok atau Bukan?
"Wah lagi stres nih, enaknya ngrokok aja biar penat dan stresnya pada hilang"
"Waduh udah siang 15 menit lagi kuliah dimulai, sebat dulu lah"
Tentu para laki-laki banyak yang dirinya seorang perokok. Entah baru belajar merokok atau sudah menjadi perokok aktif dan bahkan ada yang sudah berhenti dari kegiatan ini. mungkin sobat salah satunya juga?.

Asal sobat tau saja ya, merokok memang memiliki banyak kerugian mengenai kesehatan. Tetapi banyak juga orang yang memuji rokok sebagai alat pengusir kebosanan, rasa stres, dan teman mengobrol dengan kawannya.

Makanya kita tahu jumlah perokok selalu menambah dan susah untuk berkurang.

Kalok rokok diharamkan juga otomatis hal ini menimbulkan gejolak pada masyarakat. Terutama buruh rokok dan petani tembakau.

Tetapi selain sebagai alat pengusir stres, asal sobat tau saja. Rokok juga dipercaya menjadi sebuah alat untuk mencari inspirasi.

Misal, orang yang sedang nulis skripsi, stres, habis itu ngrokok. Nemu judul yang pas deh.

Tetapi ada juga dari perokok yang hanya ikut-ikutan meroko biar dibilang keren dan gaul. Ya kususnya para anak-anak yang udah beranjak remaja.

Mereka hanya menjadikan rokok sebagai salah satu fashion dari diri mereka sendiri. Adapula yang berpendapat bahwa merokok menjadikannya maco dimata lawan jenisnya. Dan adapula remaja wanita yang suka punya pacar perokok dan bahkan menjadi perokok pula.

Lalu esensinya meroko apa kalok gitu?.

Ya merokok sebenarnya mengandung sebuah keindaah tersendiri. Tapi disisi lain rokok menjadi sebuah ladang penyakit juga.

Jika dilihat dari esensi, mungkin alasan mengenai para remaja yang coba-coba meroko menjadi keindahan bagi rokok tersendiri. Ya, dari fashion rokok menunjang penuh penampilan maskulin.

Iklan rokok kebanyakan adalah laki-laki dengan postur badan yang tegak dan maco bukan?. Walaupun hampir tidak ada iklan rokok yang menampilkan adegan merokok.

Sedangkan dalam bungkus kemasan rokok perihal pelarangan merokok. Menggunakan gambar bapak-bapak yang lagi merokok dan berbagai jenis penyakit yang dilihatkan gambar organnya.

Disini rokok memang benar-benar digambarkan sebagai lambang kejantanan.

Tetapi ada juga sobat-sobat yang merasa lebih jantan bila tidak merokok.

Perokok dan bukan perokok adalah gaya hidup mereka masing-masing. Tinggal diri sobat yang menentukan letak rokok itu sebagai lambang kejantanan atau sebagai ladang penyakit.

Para binaraga pun juga jarang merokok. Mereka berpendapat zat adiktif rokok yang berupa nikotin dapat memperlambat pertumbuhan massa otot. Dan juga dapat memecah protein sehingga tidak terserap tubuh.

Intinya sih bagaimana sobat meletakan rokok dalam pikiran sobat. Apakah seperti :
  • Rokok sebagai alat penghilang stres.
  • Rokok sebagai media pencari inspirasi.
  • Rokok sebagai kenikmatan.
  • Rokok adalah tuma'ninah.
 Jika seperti hal diatas maka sobat adalah perokok yang mengutamakan esensi atau keindahan atau seni dalam merokok.

Tetapi jika sobat memilih poin dibawah ini :

  • Rokok sebagai ladang penyakit.
  • Rokok sebagai penghambat pertumbuhan badan.
  • Rokok sebagai kebutuhan sekunder yang menguras uang.
  • Rokok sebagai awal perusak moral.
Jika sobat setuju dengan hal-hal yang kali ini. Maka, sobat bukan lah perokok. Sobat lebih mementingkan kesehatan dan keuangan untuk hal yang berguna.

Terserah sobat itu perokok atau bukan. Hal itu bebas. sebebas kalian saat bernafas.

Tapi ingat jika kalian perokok, maka ketauhilah keindahan dalam merokok. Bukan semata-mata mengikuti gaya dan model saja. Bukan hanya sekedar biar dibilang lakik saja. Tetapi benar-benar merokok untuk kebutuhan.

Dan jika sobat bukan perokok, janganlah sobat memusuhi orang-orang yang perokok. Jadilah orang yang sehat. Baik fisik maupun sikis.

Oh iya, Bagi para perokok. Boleh sih ngrokok tapi jika orang yang disekitar terganggu maka pindah tempat ke smoking area atau ketempat lain yang sekiranya tidak menganggu orang sekitar.

Perokok bukan perokok itu pilihan sobat. Yang paling penting saling menghargai kondisi orang disekitar kita.